Bolehkan Mencabut Gigi Pada Ibu Hamil?

 

Menjawab pertanyaan, bolehkan cabut gigi pada ibu hamil usia kandungan 5 bulan.

Pada Ibu dengan kehamilan pertama dan kehamilan selanjutnya ada sedikit perbedaan.

Pada kehamilan pertama kami cenderung sangat berhati hati untuk melakukan tindakan pencabutan gigi walaupun usia kandungan sudah menginjak trisemester ke 2 yang relatif lebih aman. Namun pada kehamilan kedua dan seterusnya bisa menjadi pertimnangan lain untuk dilakukan pencabutan gigi karena kami minimal sudah bisa mendapat informasi bahwa Bumil tersebut tidak mempunyai riwayat alergi terhadap local anaestesi (bius lokal) saat persalinan normal atau general anaestesi (bius total) pada persalinan caesar dan pemakaian obat serta diwayat perdarahan saat persalinan. Serta aspek psikologis nya jauh lebih siap dan sudah punya pengalaman merasakan tindakan operasi.

 

Pencabutan gigi adalah termasuk tindakan minor surgery dengan kasus ringan sedang namun bisa jadi mayor surgery bila ada komplikasi dan riwayat penyakit kelainan sistemik parah yang menyertainya atau kondisi truma dan distruksi tulang yang parah karena kanker atau tumor. Namun rongga mulut yang merupakan jalan masuk kuman dan tempat kuman beberapa ratus spesies berkembang dan tumbuh di rongga mulut. Sehingga sangat perlu dijaga agar sekecil apapun tidakan perawatan gigi dan mulut dilakukan dengan kondisi bebas infeksi dan steril.

Prinsip utama pada pencabutan gigi di saat hamil adalah diagnosa dari kelainan gigi pada Bumil harus ditegakkan dahulu. Diagnosa kelainan gigi dapat diperoleh dengan mengetahui riwayat penyakit, pemeriksaan klinis dan foto X-ray. Pada ibu hamil pertama biasanya karena masih muda jarang yang mempunyai penyakit sistemik seperti diabetes, hipertensi, Asma dan lainnya. Begitu pula riwayat intoleransi atau alergi terutama obat obatan harus terbuka dan disampaikan pada dokter gigi yang akan merawatnya.

    

Pada kasus kelainan gigi dan gusi ringan seperti gambar diatas yaitu early caries dengan diagnosa pulpitis reversible atau hiperamia pulpa ringan yang hanya sampai lapisan enamel dan sebagian dentin dengan keluhan terasa linu bila kena air atau makanan manis dan dingin namun belum ada pembengkakan gusi dan kelenjar getah bening. Begitu pula pada kasus Gingivitis marginalis (radang gusi)  dan calculus ( karang gigi) ringan yaitu kadang berdarah saat sikat gigi namun gusi tidak meradang parah dan tidak ada benjolan. Kondisi ini tidak boleh dilakukan pencabutan, perawatan pembersihan karang gigi, penambalan dan perawatan gigi serta intruksi meningkatkan oral hygiene rongga mulut sudah cukup meredakan keluhan tersebut tanpa obat telan.

Adapun kasus pencabutan ringan yang bisa dilakukan saat kehamilan trisemester ke 2 adalah dengan indikasi kondisi klinis seperti gangren radix sisa akar gigi permanen kecil tinggal 1/3 akar yang tidak disertai infeksi dan tidak dalam kondisi meradang gusinya atau ada sisa gigi susu yang masih ada ketika usia dewasa (persistensi) yang goyang dan mudah pencabutannya. Dan kondisi keseluruhan ibu hamil 5 bulan ini benar benar tdak memiliki riwayat hipertensi, diabetes, asma dan penyakit sistemik lainnya. Serta ibu hamil ini bukan tipe pencemas atau penakut yang berlebihan. Semua pencabutan ini bisa dilakukan dengan topical anaestesi berupa gel atau chorethyle berupa semprotan cairan dingin tanpa local anaestesi yang berupa injeksi. Bila terpaksa dilakukan dengan pemberian local anaestesi maka jenis lidocain yang dianjurkan bukan yang mengandung ephineprine dan sebaiknya dengan dosis separuh saja.Dan setelah cabut ibu hamil juga tidak diperkanankan minum obat anti nyeri anti radang yang mengandung steroid misal aspirin dan  golongan obat AINS ( anti inflamsi non steroid) atau NSAID ( non steroid anti inflamation drug ) seperti pontan (asam mefenamat ), cataflam, ibuprofen. Jadi   hanya boleh minum  paracetamol itupun hanya bila diperlukan dengan dosis terpantau. Karena obat jenis tersebut di duga banyak menimbulakn gangguan janin ringan hingga parah seperti kecacatan fisik janin dan janin meninggal di dalam rahim. Serta untuk langkah profilksis diberikan antibiotika tipe B yaitu amoxcicillin, penicilline dan clindamycine. Tetapi penicilline dan clindamycine sering kali menimbulkan reaksi alergi tidak terduga baik ringan sampai parah sehingga dihindari.

Sedangakan tindakan X-ray ringan seperti foto periapical untuk 1-3 gigi saja atau panoramic yang bisa untuk seluruh gigi masih kontrofersi. Beberapa laborat sering kali menolak walaupun sudah kami beri pengantar dan kami sampaikan di usia kehamilan trisemester 2 sudah aman asal pasien dilindungi dengan baju Apron atau Thyroid Collar. Sehingga kami pun menunda melakukan perawatan atau pencabutan bila foto x-ray tidak bisa dilakukan.

Pada kasus kelianan gusi sedang dan cenderung parah seperti gambar dibawah ini:

 

     

Gambar ini menunjukkan Gingivitis marginalis kronis (radang gusi) dan bahkan disertai dengan kelainan periodontal (jaringan peyangga gigi) yang bisa terjadi pada Ibu hamil dengan riwayat oral hygiene buruk, kuman, karang gigi, perubahan hormon hamil serta vomiting (mual muntah) saat hamil. Cairan asam lambung yang naik dan melewati mulut cukup membuat gusi mudah meradang dan bila terdapat karang gigi serta oral higiene yang buruk akan cepat menjadi benjolan hiperplasi gingiva. Kasus ini paling sering terjadi pada Ibu hamil dan akan memicu terjadinya kelainan yang lebih parah. Ibu hamil yang sering muntah sebaiknya setelah muntah segera kumur air bersih yang banyak agar cairan asam lambung tidak membuat gusi meradang.. Keluhan yang timbul adalah rasa kemeng bahkan sakit yang muncul hilang, mudah berdarah, holitosis (bau mulut) dan sangat tidak nyaman saat makan dan menggangu estetik karena pada beberapa kasus sampai terjadi discolorisari (pewarnaan) permukaan gigi jadi lebih coklat tua sampai hitam. Perawatan kondisi ini dengan pembersihan karang gigi (scaling), pemakaian obat kumur herbal, pemakaian pasta gigi khusus, pemberian gel atau cairan khusus pereda radang yang diulas atau disemprotkan pada gusi, splinting periodontal (serabut penahan gigi ) bila perlu dipasang dibagian dalam gigi agar gigi tidak makin goyang serta pemberian obat antibiotika yang aman bagi Ibu Hamil seperti jenis Amoxicillin.pada Kasus ini tidak boleh dilakukan pencabutan walaupun gigi sudah goyang dan terkadang mengganggu pengunyahan, namun perlu tindakan perawatan rutin ke dokter gigi. Biasanya kelianan ini akan mereda dengan baik bila telah melahirkan.

Kelainan gusi yang sering terjadi pada ibu hamil lainnya adalah Epulis Gravidarum (benjolan pada sela gusi) seperti gambar dibawah ini.

      

Biasanya terjadi hanya pada regio beberapa gigi saja, namun cukup mengganggu dengan keluhan mudah berdarah, sedikit kemeng, namun karena mencolok ibu hamil suka gemas dan sering diraba raba sehingga jutru makin bisa memicu jadi tambah besar. Ini terjadi karena reaksi berlebihan yang dipicu hormon hamil terhadap adanya jejas semisal karang gigi yang runcing atau ujung lubang gigi yang lancip atau bahkan muncul dengan tiba tiba. Terapi yang diberikan pembersihan kaerang gigi, pemberian obat kukur herbal, gel khusus yang dioles di gusi atau disemprotkan, pemberian anibiotika bila dirasa perlu saja dan yang terpnting tidak boleh suka usil memegang dengan tangan atau dengan tusuk gigi dan sejenisnya karena dikwatirkan justru terjadi infeksi dan menjadi kelaianan yang lebih parah. Tidak boleh dilakukan dilakukan pemotongan atau pencabutan gigi tersebut selama hamil.pada kelainan ini. Epulis ini jarang menyebabkan gigi goyang dan jarang disertai nyeri gigi akibat pulpitis (radang pulpa) . Dan bila dilakukan tindakan gigingectomy (pemotongan gusi ) sering masih  kambuhan.Epulis ini lebih cepat sembuh dengan sendirinya bila telah melahirkan.

Pada kasus caries profunda (lubang gigi yang telah mengenai tulang gigi dan saraf) seperti dengan diagnosa pulpitis akut atau pulpitis irreversible (radang saraf gigi ) atau bahkan sudah menjadi gangren pulpa atau necrotic pulpa (gigi busuk dan saraf sudah mati ) yang disertai dengan abses (benjolan nanah) seperti gambar dibawah ini :

        

Ibu hamil harus mendapatkan perawatan gigi yang intensif, abses (benjolan berisi nanah) harus diredakan dengan perawatan saluran akar total dan pemberian antibiotoka secara kontinue, walaupun sering kali sudah menimbulkan sakit yang sangat penderita hanya boleh meminum anti piretik anti nyeri jenis Paracetamol dan antibiotika Amoxicillin.

Kami lebih memilih menunda pencabutan walaupun setelah dilakukan perawatan saluran akar beberapa kali berhasil meredakan infeksi dan nyeri, karena biasanya gigi seperti ini sering terkategori cabutan gigi sulit atau rawan dengan komplikasi (open methode).

 

Pada gambar diatas, adalah bila kelainan gigi ini menjadi parah dan infeksi makin menyebar (plegmon ) atau ibu hamil ini tiba tiba drop kondisi fisiknya, berkeringat dingin susah nafas dan disertai panas badan maka Ibu Hamil trisemester ke 2 ini harus dilarikan ke RS untuk mendapatkan perawatan intensif gabungan dari beberapa dokter spesialis yaitu dokter spesialis kandungan, drg spesialis bedah mulut, spesialis penyakit dalam untuk meredakan infeksi yang berkembang. Biasanya ini terjadi karena adanya kompliksi dengan penyakit sistemik yang dimiliki ibu hamil  misal ada diabetes, alergi atau tekanan darah tiba tiba meningkat sehingga rawan terjadi preeklamsi ( keracunan kehamilan) atau diiringi dengan adanya perdarahan atau flek sehingga janin dan ibu hamil dalam kondisi rawan. dan bila harus dilakukan pencabutan maka memerlukan dokter spesialis anaestesi untuk dilakukan General anaestesi yang aman.

Dan bila kondisi keparahan infeksi dan ibu hamil drop di usia kehamilan trisemester 3 yang aman misal janin sudah 8 bulan jalan atau sembilan bulan, maka saat rawat inap pasien ibu hamil ini akan ditangani para dokter spesialis berbagai bidang seperti tersebut diatas dan dengan general anaestesi dilakukan tindakan bersamaan yaitu janin dilahirkan lebih awal dan gigi yang menyebabkan infeksi dicabut juga. Dengan demikian harapannya bayi dan ibu hamil tetap selamat dan setelah itu hanya menunggu proses penyembuhan infeksinya.

Prinsip kedua, kondisi kebugaran atau kesehatan keseluruhan Ibu hamil apakah dalam kondisi stabil emosi dan fisik dan psikis.Dapat diketahui dari riwayat pola makan dan pola istirahatnya. Kondisi fisik Ibu Hamil yang lemah, masih sering mual, muntah, pusing dan susah makan sangat rawan untuk dilakukan pencabutan. Begitu pula kondisi Psikis yaitu susah istirahat, mudah cemas, takut dan gampang kelelahan maka perlu dihindari tindakan pencabutan gigi.

Prinsip Ketiga adalah memahami efek samping dan komplikasi yang bisa ditimbulkan akibat pencabutan serta efek samping obat obatan yang dikonsumsi saat hamil. Termasuk memahami betul penting nya peran gizi seimbang agar janin tumbuh dan berkembang maksimal dan ibu hamil lebih bugar sehat fisik dan mental dan menunjang proses penyembuhan. Sehingga mengurangi resiko pencabutan saat hamil.

Prinsip keempat adalah tindakan preventive ( pencegahan) jauh lebih baik dan mudah dibanding tindakan kuratif (perawatan). Sebelum dan sesaaat setelah menikah perlu kontrol rutin ke dokter gigi agar semua kenainan gigi yang memicu gangguan janin akan teratasi. Hindari kebiasaan suka menunda mengunjungi dokter gigi dan melakukan kebiasan jelek seperti memakai tusuk gigi yang tidak bersih yang mengungkit ungkit gigi yang sakit dengan jari atau tusuk gigi.

Prinsip kelima adalah lebih banyak berdoa dan menanamkan semangat bahwa kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Jadi langkah ikhtiar maksimal menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan sikat gigi dengan benar dan teratur dan kontrol gigi rutin. Ibu hamil sudah selayaknya bersih sehat fisik dan mental serta bisa konsentrasi terhadap anugerah yang luar biasa hebat yaitu amanah yang diberikan Alloh SWT dengan dititipi janin dan menjadi bunda nantinya. Dengan tanpa kelainan gigi yang mengganggu ibu hamil akan lebih bisa khusuk berdoa dan beribadah. Aamiin.

 


 

Informasi perawatan Kawat Gigi atau Behel Gigi di Surabaya
 

Anda dapat berkonsultasi untuk mendapat penjelasan tentang perawat behel gigi /kawat gigi.

Hubungan kontak di :

  • dokterkawatgigi.com atau
  • dokterbehel.com

 

Berikut beberapa pertanyaan yang sering dikonsultasikan pada dokter gigi Spesialis Ortodonti:

  1. Perlukah menggunakan kawat gigi / behel gigi / braket ?
  2. Bagaimana cara kerja kawat gigi /behel gigi / braket ?
  3. Bagaimana tips kesehatan sebelum memasang behel gigi / kawat gigi ?
  4. Apa saja jenis-jenis kawat gigi yang banyak dipakai ?
  5. Berapa harga pasang kawat gigi di dokter ?
  6. Bagaimana proses pemasangan behel gigi / kawat gigi ?
  7. Bagaimana fungsi pemasangan behel gigi dan efek sampingnya ?
  8. Bagaimana menggunakan behel gigi tranparan ?
  9. Fakta dan Mitos mengenai kawat gigi ?
  10. Ragu pasang kawat gigi karena takut dan mahal ?

 


 

WE CARE YOUR SMILE...

 


 

About Me

 


 

Lila Muntadir, drg., Sp.Ort.
Spesialis Merapikan Gigi (Orthodontist)

 


 



Para pengunjung yang berbahagia,
Selamat datang di website kami.

Senyum indah itu ditentukan oleh kerapian gigi dan harmonisasi muka, rasanya tidak berlebihan kalau kami mengungkapkan hal itu kepada Anda di sini.
 
 

Hubungi : 

Lila Muntadir, drg., Sp.Ort.
Spesialis Merapikan Gigi (Orthodontist)
 

Alamat : Pondok Citra Eksekutif F-8 Penjaringan Sari, Rungkut, Surabaya  

  
HP /SMS / WA : 08121752022       

  
E-mail : lilamuntadir@gmail.com    

 
Website : dokterkawatgigi.com & dokterbehel.com

 

 

Jadwal Praktek:

  • Rumah Sakit Muhammadiyah Siti Khodijah  Jl. Pahlawan 260 Sepanjang, Sidoarjo
  • Rumah Sakit Al Irsyad  Jl. KH. Mas Mansyur 210-214 Surabaya 
  • Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendangsari MERR Jl. Ir. H. Soekarno no. 2 Surabaya
  • Klinik di Rumah. Pondok Citra Eksekutif F-8 Penjaringan Sari, Rungkut, Surabaya (Belakang Kantor Kelurahan Penjaringan Sari)
  • (Khusus Klinik di Rumah, free biaya konsultasi dan pemeriksaan)

One smile at a time!


 

 

 

 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.